• Tulisan Edy Suhardono yang berjudul “Perguruan Tinggi bukan Garansi” pada harian kompas 27 September 2024 sangat penting untuk dicermati bersama. Dari judulnya, tampak bahwa ada ketidaksingkronan antar kehadiran perguruan tinggi dan dampaknya bagi kemajuan bangsa.

    Berdasarkan paparan yang ada, terlihat bahwa perguruan tinggi masih belum mampu menjadi garda utama dalam mempertebal inovasi dan peningkatan produktivitas dan skills mahasiswa. Oleh karenanya, banyak mahasiswa perguruan tinggi yang masih terombang-ambing dalam menentukan arah hidupnya.

    Perguruan tinggi juga memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam hal mentransfer perbaikan moral dan meningkatkan tanggung jawab sosial sebagai bekal utama bagi mahasiswa.

    Semua ini menunjukkan ketidakmampuan perguruan tinggi dalam membalas budi kepercayaan negara dan masyarakat dalam menorong kemajuan dan perbaikan bangsa.

    Meskipun demikian, tidak semua perguruan tinggi demikian. Banyak perguruan tinggi yang juga terus berbenah, melakukan berbagai upaya untuk terlibat dan berperan aktif bagi kemajuan bangsa. Semoga saja, perbaikan terus menjadi harapan, dan pelayanan terus ditingkatkan.

  • Tulisan Bapak Fatul Wahid yang berjudul Kampus Masa Bodoh pada Harian Kompas, 23 September 2024 sangat cocok untuk menggambarkan lunturnya kekritisan kaum intelektual kampus dalam menanggapi berbagai isu yang berhubungan dengan kekuasaan.

    Lunturnya kekritisan tergambar dari kurangnya keterlibatan kaum intelektual kampus dalam memperjuangkan keutuhan konstitusi dan demokrasi. Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini dalam tulisannnya menyebut bahwa kampus apatis terhadap isu kekuasaan karena mengganggap bahwa isu ini bukan menjadi bagian dan tanggung jawabnya. Mereka terlalu banyak disibukkan dengan tuntutan administatif yang menguras fokus dan energi.

    Foto penulis dan Fathul Wahid pada kegiatan workshop Learning from Mangunwijaya di Bantul, Yogyakarta, 2024.

    Meskipun sedemikan melelahkan, namun keadaan ini tentu tidak bisa menjadi pembenaran atas ketidakmampuan kampus dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga moral dan demokasi di negeri ini.

    Pembenaran ini, jika terus dibiarkan akan sangat berbahaya, mengingat kampus perlu menjadi role model dan garda terdepan dalam memperjuangkan nalar kritis dan nilai-nilai demokrasi. Kampus tidak boleh berhenti dan berpijak pada teori semata, namun harus proaktif untuk menyuarakan kepentingan banyak pihak, termasuk menolak berbagai upaya kriminalisasi, kolusi, dan pelemahan lembaga negara.

    Semoga saja, kampus segera berbenah!

  • Media sosial kerap kali dihebohkan dengan berbagai informasi yang unik. Baru-baru ini, drama keluarga artis menghiasi semua flatform media sosial. Drama ini tidak berhenti-henti meski topik baru kian berganti.

    Drama keluarga artis ini layaknya dagelan lucu yang menghibur bagi sebagain orang, namun menjijikan bagi banyak orang. Kalimat ini tidak berlebihan mengingat sangat tidak penting dan seharusnya berada pada ranah privat keluarga itu.

    Pertanyaannya, siapa yang harus disalahkan dengan semua dinamika ini?

    Tidak perlu saling menyalahkan, yang diperlukan hanya memproteksi diri dari berbagai isu yang tidak menguntungkan.

  • Kami adalah setitik embun yang berdansa dalam menyabut arunika.

    Bagian ini menjadi saksi perjalanan dan pemikiran kami dalam berdialog dengan semesta. Kami adalah kumpulan ruang dan waktu yang bersatu dalam jiwa yang bersebrangan. Tidak terlampau jauh, tapi cukup menjadi pembeda yang mengisyaratkan keuninkan jiwa sebagaimana tercipta oleh Yang Esa.